Sejarah Kesultanan Banten, dari Masa Fatahillah (Sunan Gunung Jati) sampai Masa Sultan Muhammad Syafiuddin (1527-1813)/ History of the Sultanate of Banten, Masa Fatahillah (Sunan Gunung Jati) until Sultan Muhammad Syafiuddin period (1527-1813) FOR GENERAL HISTORY


Sejarah Kesultanan Banten, dari Masa Fatahillah (Sunang Gunung Jati) sampai Masa Sultan Muhammad Syafiuddin (1527-1813)

(sumber: Buku Sekolah Menengah Pertama. Ilmu Pengetahuan Sosial Sejarah)

A) Masa Pemerintahan Fatahillah (Sunan Gunung Jati)

            Kita kembali pada permulaan abad XVI, pada waktu itu Pasundan merupakan kerajaan Hindu yaitu Kerajaan Pajajaran dengan ibokota Pakuan, daerah Banten merupakan bagian dari Pajajaran. Perdagangan dan pelayaran di Banten makin lama makin ramai karena:

Ø  Setelah Kesultanan Malaka (Tahun 1511) dan Kesultanan Samudera Pasai (Tahun 1521) jatuh ketangan Portugis. Banyak pedagang Islam pindah ke daerah Banten, di Banten, mereka meneruskan perdagangan dan mengajarkan agama Islam.

Ø  Setelah Kesultanan Malaka dan Kesultanan Samudera Pasai dikuasai oleh Portugis, banyak pedagang Islam yang hendak ke Indonesia tidak mau melalui Selat Malaka. Mereka menyusuri pantai barat Sumatera masuk Selat Sunda dan singgah di Banten. Denga demikian, Banten menjadi Bandar besar dan mendapat pengaruh besar pula dari agama Islam.

Dengan meluasnya pengaruh Islam tersebut, raja Pajajaran menjadi gelisah. Oleh karenanya raja Pajaaran mencari hubungan dengan bangsa Portugis (di Semenanjung Malaka) dengan harapan untuk memperoleh bantuan jika pada suatu waktu harus menghadapi kaum Islam. Isi perjanjian antara Kerajaan Pajajaran dengan Portugis diadakan pada tahun 1522, dengan syarat:

Ø  Bangsa Portugis diperolehkan membuat benteng di Sunda Kepala (Sekarang: Jakarta),

Ø  Bangsa Portugis akan mendapat monopoli perdagangan lada.

Ø  Bangsa Portugis akan mendapat hadiah lada tiap tahun.

Pada tahun 1521, Portugis merebut Kesultanan Samudera Pasai. Faletehan (Fatahillah) meninggalkan Kesultanan Samudera Pasai lalu pergi ke Mekah untuk mempelajari agama Islam. Setelah beberapa tahun di Mekah, kembali ke Kesultanan Samudera Pasai dan sesudah beberapa tahun kemudian, ia pindah ke Kesultanan Demak. Fatahillah menikah dengan saudara Sultan Trenggana. Setelah berunding dengan Sultan Trenggana, ia pergi ke Banten (1526) untuk menyiarkan agama Islam dan untuk menahan masuknya kekuasaan Portugis di Jawa Barat.

            Ddi Banten, di terima oleh wakil Raja. Usaha Faletehan (Fatahillah) untuk menyebarkan agama Islam di Jawa Barat, berjalan dengan lancar. Disamping itu, Faletehan (Fatahillah) juga mempersiapkan usaha Kesultanan Demak untuk merebut kekuasaan di Banten.

            Tugas Faletehan (Fatahillah) dapat diselesaikan dengan baik, karena Banten kemudian dapat diduduki dan bangsa Portugis dapat diusir dari Sunda Kelapa (1527). Sejak saat itulah (1527) nama Sunda Kelapa diubah menjadi Jayakarta (sekarang: Jakarta). Usaha Portugis untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa yang sejak 1527 sudah dikuasai oleh Faletehan (Fatahillah), tidak berhasil. Serangan Portugis terhadap Sunda Kelapa, gagal sama sekali.

            Kemudian, daerah Cirebon juga dikuasainya. Dengan demikian daerah kekuasaannya meliputi: Banten, Jayakarta, dan Cirebon. Faletehan (Fatahillah) meemgang pemerintahan yang berkedudukan di Banten dan termasuk daerah kekuasaan Kesultanan Demak.

            Pada tahun 1552, Faletehan (Fatahillah) turun takhta. Pemerintahan di Banten dan Jayakarta diserahkan kepada puteranya yaitu Hasanuddin dan Cirebon diserahkan kepada “cicinda” yaitu Panembahan Ratu. Faletehan (Fatahillah) sendiri menetap di Cirebon untuk memperdalam dan menyiarkan agama Islam. Faletehan (Fatahillah) meninggal pada tahun 1570 dan dimakamkan tidak jauh dari kota yaitu pada sebuah bukit yang disebut GunungJati. Karena itu Faletehan (Fatahillah) biasa disebut Sunan Gunung Jati.
           
B) Masa Pemerintahan Hasanuddin (1552-1570)

Di bawah pimpinan Hasanuddin (1552-1570), pengganti Faletehan (Fatahillah), Banten maju dengna pesatnya baik dibidang perdagangan maupun keagamaan. Daerahnya diperluas sampai ke Sumatera Selatan. Setelah Hasanuddin meninggal, ia diganti oleh puteranya, yaitu Pangeran Yusuf (1570-1580). Hasanuddin berhasil menjadikan Banten menjadi suatu Negara besar. Untuk menguasai Selat Sunda, Hasanuddin segera melangkah ke Lampung. Lampung dijadikan daerah lada yang besar hingga Banten dapat menguasai pasar lada di Nusantara (Indonesia) bagian barat.

            Ketika pada tahun 1568, Kesultanan Demak mengalami kekacauan karena perebutan kekuasaan, Hasanuddin melepaskan diri dari Kesultanan Demak.

C) Masa pemerintahan Pangerahn Yusuf (1570-1580)

Pangeran Yusuf memperluas daerahnya ke Kerajaan Pajajaran yang masih memeluk agama Hindu. Pangeran Yusuf menyerang benteng terakhir Kerajaan Pajajaran di Pakuan, Jawa Barat.  Dalam peperangan yang berkobar, Prabu Sedah, raja Pajajaran gugur. Kerajaan Pajajaran diduduki dan berakhirlah riwayat kerajaan Pajajaran (Tahun 1579). Pengganti Pangeran Yusuf adalah Maulana Muhammad. Karena masih diwakili oleh Mangkubumi.

D) Masa pemerintahan Maulana Muhammad/ gelarnya: Kanjeng Ratu Banten (1580-1605)

Vereenigde Oostindische Compagnie (V. O. C.) datang di Banten

            Banten merupakan Kerajaan Islam yang mulai berkembang pada abad XVI, setelah pedagang dari India, Arab, dan Persia mulai menghindari Semenanjung Malaka yang telah diduduki Portugis pada tahun 1511.

            kedudukan Vereenigde Oostindische Compagnie (V. O. C.) di Maluku sudah kuat. Sekarang Vereenigde Oostindische Compagnie (V. O. C.) berusaha untuk memperbesar pengaruhnya di Kesultanan Banten. Pada waktu itu, Kesultanan Banten merupakan Bandar yang ramai. Di situ, berlabuh kapal dari daerah Indonesia lainnya, dari Negara Asia (India, Cina, dan lain-lain) dan dari Eropa terutama kapal Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda. Vereenigde Oostindische Compagnie (V. O. C.) berusaha mengerahkan pedagang bangsa lain dari Banten.

            Pertama kalinya (Vereenigde Oostindische Compagnie (V. O. C.)), Kanjeng Ratu Banten (Maulana Muhammad) gugur dalam pertempuran merebut Palembang. Ketika Maulana Muhammad meninggal, ia dingatikan oleh puteranya, ialah Abdul Mulakhir. Karena ia masih dibawah umur, ia diwakili dalam memerintahkan pemerintahan Banten, yakni Jayasan.

E) Masa Pemerintahan Abdul Mufakhir (1605-1940)


VOC terus membangun koloni di Jayakarta

Tahun 1609, Vereenigde Oostindische Compagnie (V. O. C.) menyatakan kesediaannya membantu Banten, jika Kesultanan Banten diserang oleh bangsa Eropa lainnya, asal Kesultanan Banten bersedia melarang pedagang asing lainnya itu untuk mendirikan kantor dagang disitu. Permintaan Vereenigde Oostindische Compagnie (V. O. C.) tersebut ditolak mentah-mentah oleh Ramamenggala Mangkubumi di Banten sehingga hubungan dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (V. O. C.) jadi tegang.

            Pada tahun 1527, Jayakarta masuk wilayah kekuasaan wilayah kekuasaan Banten. Pada kira-kira 1610, Bupati Jayakarta ialah Pangeran Wiyaja Krama. Karena Vereenigde Oostindische Compagnie (V. O. C.) tidak berhasil menanamkan pengaruhnya di Kesultanan Banten.

            Ketika Belanda pertama kali mendarat di Banten, mereka mendapat sambutan baik dari penguasa di Banten. Tetapi karena sikap kasar Belanda. Akhirnya, rakyat Banten tidak menyukai mereka. Tetapi siasat licik Belanda, kemudian mereka berhasil juga mendirikan kantor dagang di Jayakarta. Vereenigde Oostindische Compagnie (V. O. C.) bermaksud memindahkan kantor dagangnya di Jayakarta. Vereenigde Oostindische Compagnie (V. O. C.) membeli sebidang tanah, di sebelah Timur sungai Ciliwung dari adipati Wijaya Krama. Di Jayakarta, J. P. Coen berhasil memajukan kepentingan VOC dan berhasil pula membuat Kesultanan Banten dan Jayakarta saling curiga.

Setelah Vereenigde Oostindische Compagnie (V. O. C.) mendirikan kantor dagang di Jayakarta, orang Inggris (East Indian Company/ EIC) berbuat demikian,  Inggris (East Indian Company/ EIC) mendirikan kantor dagang di sebelah barat sungai Ciliwung. Sehingga Kantor Inggris (East Indian Company/ EIC) dan Kantor Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie (V. O. C.)) saling berhadap-hadapan. Timbullah kini, pertentangan terbuka antara orang-orang Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie (V. O. C.) dengan orang Inggris (East Indian Company/ EIC).


Pangeran Mangkubumi (Kesultanan Bante) menganggap Pangeran Jayakarta terlalu memberi hati kepada bangsa Eropa. Karena di samping VOC (Belanda), Inggris (EIC) mendapat ijin untuk mendirikan kantor dagang di Jayakarta. Sehingga VOC (Belanda) meninggalkan Kesultanan Banten dan memusatkan kepentingannya di Jayakarta. Pada tanggal 15 Februari 1619, orang Banten berhasil menculik Pangeran Jayakarta dan membawanya ke Banten. Orang Banten yang masih berada di Jayakarta melakukan gangguan keamanan terhadap Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie (V. O. C.)) di Jayakarta. Keadaan Belanda di Jayakarta menjadi bahaya, karena baik Kesultanan Banten maupun Kesultanan Mataram menyatakan permusuhan terhadap Belanda (VOC), juga bermusuhan dengan Inggris (EIC) karena adanya kepentingan dagang yang sama. Antara Belanda timbul pertempuran laut. Kesempatan ini dipergunakan oleh Kesultanan Banten untuk mengambil alih kekuasaan Pangeran Jayakarta yang telah memberi tempat kepada Belanda dan Inggris. Ketika pertahanan Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie (V. O. C.)) dihancurkan. Gubernur VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), J. P. Coen (1619-1623) melarikan diri ke Maluku untuk minta bantuan pasukan Belanda.

 J. P. Coen kembali ke Jayakarta dengan tambahan pasukan 1000 orang. Kembalinya J. P. Coen dari Maluku membawa bala bantuan, merupakan malapetaka bagi penduduk Jayakarta (Banten) karena kota Jayakarta dimusnahkan. Orang Banten diusir dari Jayakarta, di bakar, dan direbut. Tepat pada tanggal 30 Mei 1619, J. P. Coen mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia. Nama Batavia ini diberikan atas perintah pengurus VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yaitu menurut nama nenek moyang bangsa Belanda yakni bangsa Bataf atau Batavir. Dengan Batavia ini, J. P. Coen memluai sejarah penjajahan Belanda di seluruh Nusantara (khususnya Indonesia).

Sultan Abdul Mufakhir digantikan oleh puteranya yaitu Abu Am’ali Ahmad Rahmatullah (1640-1651).

F) Masa Pemerintahan Abu Am’ali Ahmad Rahmatullah (1604-1651)

Abu A’mali Ahmad Rahmatullah meninggal, kemudian digantikan oleh puteranya yang bernama Abullath Abdul Fatah. Kemudian ia bergelar Sultan Ageng Tirtayasa.

G) Masa Pemerintahan Sultan Agent Tirtayasa (Abullath Abdul Fatah) (1651-1692)

Pada tahun 1651, Kesultanan Banten diperintah oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Ia sangat membenci dan memusuhi VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda). Ia berusaha menghalangi perkembangan perdangangan Belanda di Banten. Pada tahun pertama pemerintahannya, ia berhasil mengembangkan kembali perdagangan Kesultanan Banten, hal ini sangat merugikan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda) di Batavia. Di samping itu, ia juga mengadakan serangan gerilya ke Batavia lewat darat.

Pada tahun 1656, dua kali kapal VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda) berhasil diserang oleh orang Banten. Sultan Banten sering menolak utusan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda). Itulah sebabnya maka orang Belanda tidak merasa aman di Banten dan tidak merasa aman di Banten dan meninggaklanya secara diam-diam. Bila di Banten dalam menjalankan politik dagangnya mendapat reaksi bahkan menimbulkan perang, maka di Kesultanan Mataram demikian juga.

Pada tahun 1828, Kesultanan Mataram menyerang Batavia, tetapi belum berhasil. Serangan kedua, pada tahun 1629, Kesultanan Mataram menyerang lagi ke Batavia, tetapi gagal. Namun, Jendral J. P. Coen, Gubernur VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda) di Batavia, tewas pada waktu itu.

            Sultan Ageng Tirtayasa adalah Sultan Banten yang tercakap yang dengan tegas menjalankan politik anti penjajahan. Hanya malang baginya, ia menghadapi musuh yang jauh lebih kuat persenjataan dan pandai, karena menjalankan politik devide et impera (politik adu domba).

            Kesultanan Banten sudah sangat menderita karena monopoli VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda) dank arena pemusatan perdagangan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda) di Batavia. Tetapi Sultan Ageng Tirtayasa yakin bahwa ialah yang wajib mengembalikan kebesaran dan kemakmuran Kesultanan Banten di jaman Hasanuddin dan jaman Yusuf. Itulah sebabnya maka usahanya dipusatkan kepada dua hal, yaitu:

Ø  Memajukan perdagangan Kesultanan Banten dengan meluaskan daerah kekuasaannya,

Ø  Mengusir VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda) dari Batavia, karena Batavia merupakan pusat musuh yang menyebabkan kemunduran Kesultanan Banten.

Sultan Ageng yakin bahwa kemunduran perdagangan Banten adalah karena monopoli VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda) yang menutup semua pintu perdagangan di mana saja.

Banten dibuka lagi untuk semua bangsa yang berkeinginan mengadakan perdagangan dengan Kesultanan Banten. Ia membantu daerah Makasar dengan menerima segala hasil bumi yang dibawakan ke Banten. Pelayaran yang melalui Selat Sunda dari Sumatera Barat terbuka lagi. Lama kelamaan, Kesultanan Banten menjadi ramai kembali dan usaha Sultan Ageng Tirtayasa untuk mengurangi perdagangan langsung ke Batavia dan melalui Selat Malaka, lambat laun berhasil.

Perbuatan Kesultanan Banten tersebut memang membunuh monopoli VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda), dianggap sebagai perbuatan musuh. VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda) mengirimkan angkatan lautnya untuk memblokir Banten. Tiga tahun, kesultanan Banten menderita karena blockade tersebut sehingga akhirnya hak Belanda diakui dan perdagangan Banten dikuasai oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda).

Tetapi isi perjanjian tersebut tidak diakui oleh Banten. Pada waktu itu kedudukan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda) sangat lemah karena sedang menghadapi pemberontakan Trunojoyo di Kesultanan Mataram. Karena itu VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda) terpaksa meminta bantuan Aru Palaka untuk menjaga Batavia. Kemudian bantuan dari negeri Belanda datang dan pasukan Aru Palaka dikirim ke Jawa Timur untuk memadamkan pemberontakan Trunojoyo. Setelah perlawanan Trunojoyo dipatahkan, Belanda sekarang akan memusatkan kekuasaannya menghadapi Kesultanan Banten.

i) Perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa melawan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda)

            di Kesultanan Banten sendiri, sudah timbul perpecahan yang akan menjadi keruntuhan Kesultanan Banten. Putera mahkota yaitu Abdul Kahar pada tahun 1671 diangkat menjadi pembantu raja dengan gelar Sultan. Karena ia pernah ke Mekkah, maka ia disebut juga Sultan Haji. Ia diserahi urusan dalam negeri Kesultanan Banten, sedangkan Sultan Ageng sendiri memegang urusan luar negeri. Dalam bidang ini Sultan Ageng masih dibantu lagi oleh seorang puteranya yang lain, yakni: Pangeran Purbaya. Pemisahan urusan yang diadakan oleh Sultan Ageng Tirtayasa ini memberi lubang kepada usaha memecah belah atau politik “devide et impera” oleh pihak VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda). Karena siasat Belanda, Sultan Haji mencurigai bahwa ayahnya bersama saudaranya dan menyangkah bahwa ayahnya kelak akan mengangkat Pangeran Purbaya sebagai Sultan Banten. Sultan Haji sangat khawatir akan kehilangan takhta Kesultanan Banten, maka dengan cara rahasia, ia meminta bantuan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda). Belanda bersedia memberi bantuan dengan perjanjian, sebagai berikut;

Ø  Kesultanan Banten menyerahkan daerah Cirebon kepada VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda),

Ø  Monopoli lada dan kain, dipegang oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda) di seluruh Kesultanan Banten.

Perjanjian tersebut disetujui oleh Sultan Haji. Pada tahun 1681, Sultan Haji mengadakan perebutan kekuasaan. Ayahnya diturunkan dari takhta dan ia sendiri naik takhta Kesultanan Banten. Dengan cepat Sultan Ageng dapat mengadakan pemusatan tenaga dengan mengumpulkan rakyat Banten yang masih setia kepadanya, untuk memerangi Sultan Haji. Sultan Haji terdesak dan segera meminta bantuan kepada VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda).

            VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda) mengirimkan angkatan perang ke Kesultanan Banten untuk menolong Sultan Haji. Sultan Ageng Tirtayasa mempertahankan diri di benteng Tirtayasa di tepi Cidurian dan Cipontang.

            Tirtayasa adalah kota baru yang didirikan oleh Sultan Ageng. Tentara Belanda masuk ke Kesultanan Banten dan melepaskan Sultan Haji yang sudah ditawan. Tentara Belanda menuju kota Tirtayasa. Benteng Tirtayasa di kepung dari segala jurusan. Tetapi tidak mudah ditembus. Oleh Kapten Tack dan De Sait Martin di bantu oleh Jonker, benteng Tirtayasa dapat dihancurkan (Tahun 1682). Tetapi sebelum Belanda masuk benteng Tirtayasa, Istana Tirtayasa telah dibakar sendiri oleh Sultan Ageng, lalu Sultan Ageng dan Pangeran Purbaya meloloskan diri.  

            Sultan Ageng Tirtayasa masih dapat menyusun kekuatannya dan hanya dengan susah payah VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda) dapat mendesak ke selatan.

            Pada tahun 1683, Sultan Ageng Tirtayasa ditawan tetapi Pangeran Purbaya dapat meloloskan diri ke pegnungan Banten. Sultan Ageng Tirtayasa dibawa ke Batavia dan dipenjara. Selama delapan tahun. Sultan Ageng Tirtayasa meninggal pada tahun 1692.

H) Masa pemerintahan Sultan Haji (Abdul Kahar) (1683-1687)

            Sultan Haji leluasa menjadi Sultan di Kesultanan Banten, tetapi sudah diikat oleh perjanjian dengan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda) sehingga pada hakekatnya Kesultanan Banten tidak lagi merdeka.

            Bangsa asing, terutama Inggris (East Indian Company/ EIC) tidak lagi diperkenankan di Kesultanan Banten. Perdagangan Banten seluruhnya di tangan Belanda.

            Sesungguhnya, Sultan sudah bertekuk lutut kepada VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda), namun rakyat Banten masih tetap memiliki semangat, perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa. Rakyat Banten sepanjang sejarah tetap mempunyai semangat kemerdekaan yang menyala-nyala. Semenjak itu berkali-kali timbul pemberontakan di Kesultanan Banten dan setiap kali dapat dipadamkan oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda).

            Pada tahun 1687, Sultan Haji meninggal, ia digantikan oleh puteranya yang sulung, bernama Pangeran Ratu, dengan gelar Sultan Abdulfadil Muhammad Yahya (1687-1690).

I) Masa Pemerintahan Sultan Abdulfadil Muhammad Yahya (Pangeran Ratu) (1687-1690)

Sultan Abdulfadil Muhammad Yahya hanya memerintah selama 3 tahun dan meninggal karena sakit. Penggantinya adalah puteranya, bernama Abdulmahasin Muhammad Zainul Abidin (1690-1733).

H) Masa pemerintahan Abdulmahsin Muhammad Zainul Abidin (1690-1733)

Sultan Abdulmahsin Muhammad Zainul Abidin meninggal, ia dingatikan oleh puteranya, yakni Sultan Zainul Arifin.

J) Masa pemerintahan Sultan Zainul Arifin

            Sultan Zainul Arifin sangat lemah dan dipengaruhi oleh permaisurinya, Ratu Syarifah Fatimah atau Ratu Fatimah. Sultan Zainul Arifin mengangkat puteranya, Pangeran Gusti jadi putera mahkota atas persetujuan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda), akan tetapi Ratu Fatimah menghendaki menantunya (anak sepupu Sultan) Pangeran Syarif Abdullah yang naik takhta.

            Pangeran Gusti mengalah dan menyingkir ke Batavia. Atas desakan Ratu Syarifah pula, Pangeran Gusti diasingkan ke Sailan (Sekarang; Srilangka) oleh Van Imhoff (1747).

Pangeran Syarif diakui oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda) sebagai putera mahkota.

            Kemudian setelah Sultan Zainul Arifin meninggal, Ratu Fatimah menggantikannya sebagai Ratu Banten di Kesultanan Banten. Pemerintahannya sangat disukai oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda) karena mereka menerima lebih banyak lada dari padanya. Akan tetapi rakyat Banten tidak senang dan mulai mengadakan perlawanan terhadap Kesultanan Banten dan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda) (1750)

K) Masa pemerinthaan Ratu Banten (Ratu Fatimah) dan Pangeran Syarif

i) Perlawanan Rakyat Banten terhadap VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda) (Selama: 1750-1753)

            pada tahun 1750, rakyat Banten mulai mengangkat senjata. Yang dilawan tentu saja VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda), termasuk Ratu Fatimah. Rakyat Banten dipimpin oleh Ki Tapa, dibatnu oleh Ratu BagusBuang. Ki Tapa adalah seorang alim yang bertapa di gunung Munara, sedang Ratu BagusBuang adalah seorang pemimpin bangsawan yang ulung, turunan Sultan Banten.

            Ki Tapa dan laskarnya dibantu oleh Ratu BagusBuang maju menuju ke ibukota Kesultanan Banten. Pasukan Ratu Fatimah dan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda) terpaksa bertahan saja. Gubernur jenderal Belanda, Massel mengetahui asal mula perlawanan itu tidak menyetujui politik Van Imhoff.

            Bagi Massel jelas bahwa pemberontakan yang timbul itu bukan pemberontakan sebagian orang, tetapi pemberontakan seluruh rakyat Banten. Untuk menyelamatkan kekuasaan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda) di Banten, dengan melupakan jasa Ratu Fatimah dan Pangeran Syarif, Ratu Fatimah dan Pangeran Syarif ditangkap, Ratu Fatimah diasingkan ke Saparua tetapi meninggal sebelum berangkat, dan Pangeran Syarif ke Banda. Saudara Sultan, Zainal Arifin yaitu Arya Adi Santika diangkat sebagai wakil raja, dan Pangeran Gusti akan dikembalikan oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Belanda) dari Sailan (Srilangka) untuk diangkat menjadi Sultan.

M) Sultan Arif Zainul Asyiqin al Qadri

Walaupun Ratu Fatimah dan Pangeran Syarif telah tidak ada, perlawanan rakyat Banten amsih terus berlangsung untuk mengusir Belanda.

N) Masa Pemerintahan Sultan Muhammad Aliudin



Hubungan Gubernur Jenderal Daendels (Gubernur Pemerintahan Republik Bataaf / Belanda- Perancis, di Hindia Belanda) dengan Kesultanan Banten

Gubernur Jenderal Daendels membangun suatu pangkalan perang, mula-mula di UjungKulon, kemudian di MerakBanten.

            Sejumlah 1500 pekerja yang dikirimkan oleh Sultan Banten, hampir seluruhnya tewas karena pekerjaannya berat dan terkena penyakit malaria. Sultan Banten tidak mau lagi mengirimkan pekerja, Gubernur Jenderal Daendels memerintahkan kepada Sultan Banten untuk menyerahkan Patih Wargadireja yang dianggap oleh Gubernur Jenderal Daendels sebagai pimpinan perlawanan.

            Sesudah itu Gubernur Jenderal Daendels mengutus Komandan Du Pyu untuk menuntut, sebagai berikut:

Ø  Pekerja 1000 orang setiap hari,

Ø  Diserahkan Patih Wargadireja kepada Belanda,

Ø  Supaya Istana Banten dipindahkan ke Anyer.

Tuntutan tersebut dijawab dengan pembunuhan atas Komandan Du Puy. Mendengar peristiwa ini, Gubernur Jenderal Daendels segera mengirimkan tentaranya menyerbu Istana Banten. Patih Wargadireja ditembak mati dan jenazahnya dibuang ke laut. Sultan Banten di tawan dan dibuang ke Ambon. Sebagian dari daerah Kesultanan Banten dirampas dan diperintah langsung oleh Belanda, dan sebagian lagi dipinjamkan kepada putera mahkota, yaitu Sultan Muhammad Aliudin.

            Walaupun demikian, semangat perlawanan rakyat Banten tidak padam. Dengan dipimpin oleh Pangeran Achmad, rakyat Banten dan Lampung menyusun kekuatan untuk melancarkan perlawanan. Beberapa waktu lamanya Kesultanan Banten kacau, karena Sultan Banten tidak mendapat dukungan dari rakyat Banten.


Hubungan Raffles (Masa Pemerintahan Inggris/ East Indian Company, di Hindia Belanda) dengan Kesultanan Banten)

Sebelum Raffles berkuasa di Hindia Belanda, Raffles telah mengadakan hubungan rahasia dengan Sultan, raja, atau pangeran di Hindia Belanda dan menghasut mereka untuk memberontak terhadap Belanda (Masa pemerintahan Daendels) antara lain dengan Sultan Palembang, Sultan Makasar, dan Pangeran Ahmad (dari Banten) yang sedang memberontak terhadap Belanda. Pada masa Raffles, Pangeran Achmad sudah tidak lagi diperlukan. Pangeran Achmad ditangkap dan dibuang ke Banda.

Sultan Banten yang ternyata tidak dapat menjamin keamanan daerah Banten, diturunkan dari takhta pada tahun 1813. Daerah Banten langsung diperintah oleh Inggris. Sultan Banten boleh tetap memakai gelar Sultan tetapi tidak mempunyai daerah. Sultan menerima gaji dari pemerintah Inggris. Dengan demikian pada tahun 1813, lenyaplah Kesultanan Banten, yang telah telah dibangun oleh Falatehan (Fatahillah/ Sunan GunungJati) pada tahun 1527


IN ENGLISH (with google translate Indonesian-english):


History of the Sultanate of Banten, Masa Fatahillah (Sunang Gunung Jati) until Sultan Muhammad Syafiuddin period (1527-1813)

(Source: Secondary School Books. Historical Social Sciences)

A) The Reign Fatahillah (Sunan Gunung Jati)

We're back at the beginning of the sixteenth century, at the time Pasundan a Hindu kingdom with the kingdom Pajajaran ibokota Pakuan Bantam is part of Pajajaran. Trade and shipping in Banten increasingly crowded because:

 After the Sultanate of Malacca (Year 1511) and the Sultanate of Pasai Ocean (Year 1521) falls into the hands of the Portuguese. Many Muslim traders moved into the area of ​​Banten, Banten, they continue trading and teach Islam.

 After the Malacca Sultanate and the Sultanate of Pasai Ocean controlled by the Portuguese, many Muslim merchants who wish to Indonesia did not want to go through the Strait of Malacca. They go down the west coast of Sumatra Sunda Strait and stopped in Banten. Such premises, Banten became major airport and got a greater influence of the religion of Islam.

With the spread of Islamic influence, the king Pajajaran became agitated. Therefore the king Pajaaran make contact with the Portuguese (the Malay Peninsula) with the hope to obtain assistance at a time when the Muslims had to face. Pajajaran agreement between the Portuguese Empire held in 1522, provided that:

 The Portuguese is collected to make the fort in Sunda Head (Now: Jakarta),

 The Portuguese will have a monopoly of pepper trade.

 The Portuguese would be awarded annually pepper.

In 1521, the Portuguese captured Sultanate Pasai Ocean. Faletehan (Fatahillah) left the Sultanate of Samudera Pasai then went to Mecca to study the Islamic religion. After several years in Mecca, returned to the Sultanate of Pasai Ocean and after a couple of years later, he moved to the Sultanate of Demak. Fatahillah married the sister of Sultan Trenggana. After conferring with the Sultan Trenggana, he went to Bantam (1526) to broadcast the Islamic faith and to resist the entry of Portuguese rule in West Java.

Ddi Banten, received by representatives of the King. Faletehan Enterprises (Fatahillah) to spread Islam in West Java, runs smoothly. In addition, Faletehan (Fatahillah) also prepares the Sultanate of Demak attempt to seize power in Banten.

Task Faletehan (Fatahillah) can be well, because Banten then be occupied and the Portuguese can be expelled from the Sunda Kelapa (1527). Since then (1527) the name was changed to Sunda Kelapa Jayakarta (now: Jakarta). Portuguese efforts to establish a fort in Sunda Kelapa which since 1527 has been dominated by Faletehan (Fatahillah), to no avail. Portuguese attack on Sunda Kelapa, failed altogether.

Later, the area Cirebon also mastered. Thus the territory include: Bantam, White Rose, and Cirebon. Faletehan (Fatahillah) meemgang government based in Banten and including the territory of the Sultanate of Demak.

In 1552, Faletehan (Fatahillah) abdicated. Government in Punjab and handed over to his son that Jayakarta Hasanuddin and Cirebon submitted to "cicinda" ie Panembahan Queen. Faletehan (Fatahillah) itself settled in Cirebon to deepen and spread the religion of Islam. Faletehan (Fatahillah) died in 1570 and was buried not far from the city is on a hill called Gunungjati. Therefore Faletehan (Fatahillah) called Sunan Gunung Jati.

B) Hasanuddin Reign (1552-1570)

Under the leadership of Hasanuddin (1552-1570), the successor Faletehan (Fatahillah), Banten dengna rapid progress both in trade as well as religious. Extended to the region of South Sumatra. After Hasanuddin died, he was replaced by his son, the Prince Yusuf (1570-1580). Hasanuddin Banten successfully made into a great country. To control the Strait of Sunda, Lampung Hasanuddin immediately stepped into. Lampung pepper large area made up Banten pepper to dominate the market in Nusantara (Indonesia) to the west.

When in 1568, the Sultanate of Demak in chaos because of power struggles, Hasanuddin escape from the Sultanate of Demak.

C) The government Pangerahn Joseph (1570-1580)

Prince Yusuf enlarge his territory to the Kingdom Pajajaran are still Hindus. Prince Yusuf attacked the last stronghold in the kingdom Pajajaran Pakuan, West Java. In a raging battle, King Sedah, king Pajajaran fall. Pajajaran kingdom occupied and finish with royal history Pajajaran (Year 1579). Substitute Prince was Maulana Muhammad Yusuf. Because it is still represented by Mangkubumi.

D) The reign of Maulana Muhammad / title: Queen Kanjeng Bantam (1580-1605)

Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) came in Banten

Banten is an emerging Islamic Empire in the XVI century, after traders from India, Arabia, and Persia began to avoid the Malay Peninsula that has occupied the Portuguese in 1511.

Vereenigde position Oostindische Compagnie (VOC) in the Moluccas was strong. Now Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) seeks to expand its influence in the Sultanate of Banten. At that time, the Sultanate of Banten is a busy airport. There, anchored ships from other Indonesian regions, from Asian countries (India, China, etc.) and from Europe mainly ship Portuguese, Spanish, English, and Dutch. Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) trying to mobilize other nations traders from Banten.

First time (Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)), Kanjeng Queen Banten (Maulana Muhammad) died in the battle of Palembang. When Maulana Muhammad died, he dingatikan by his son, Abdul is Mulakhir. Because he was a minor, he represented the government ordered Banten, which Jayasan.

E) Abdul Mufakhir Reign (1605-1940)


VOC continues to build colonies in Jayakarta

In 1609, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) expressed willingness to help Banten, when the Sultanate of Banten attacked by other European nations, the origin of the Sultanate of Banten willing to ban foreign traders to set up trade offices there. Demand Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), which was rejected outright by Ramamenggala Mangkubumi in Punjab so that the relationship with Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) so tense.

In 1527, incoming Jayakarta territory Banten territory. In roughly 1610, the Regent Prince Jayakarta is Wiyaja Krama. Because Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) failed to exert influence in the Sultanate of Banten.

When the Dutch first landed in Banten, they were well received by the authorities in Banten. But because of his rough Netherlands. Finally, Banten people do not like them. But the cunning ploy the Netherlands, then they had also set up trade offices in Jayakarta. Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) intends to move its trading office in Jayakarta. Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) to buy a piece of land, in the east of the river Ciliwung of duke Wijaya Krama. At the White Rose, J. P. Coen managed to advance the interests of VOC and also managed to make the Sultanate of Banten and Jayakarta mutual suspicion.

After Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) established a trading office in the White Rose, the British (East Indian Company / EIC) to do so, England (East Indian Company / EIC) set up trade offices in the west of the river Ciliwung. So the Office of the United Kingdom (East Indian Company / EIC) and the Office of the Netherlands (Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)) face to face. Now arises, open conflict between the Dutch (Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) and the British (East Indian Company / EIC).


Prince Mangkubumi (Sultanate Bante) considers Prince Jayakarta too gave heart to the Europeans. Because in addition to the VOC (Dutch), English (EIC) received permission to set up trade offices in Jayakarta. So the VOC (Dutch) left the Sultanate of Banten and focused interests in Jayakarta. On February 15, 1619, the Prince Jayakarta Banten successfully kidnapped and brought to the Banten. Those who remained in Banten Jayakarta conduct disturbances against the Netherlands (Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)) at Jayakarta. Dutch state in Jayakarta a danger, because both the Sultanate of Mataram Sultanate of Banten and expressed hostility toward the Dutch (VOC), are also hostile to the British (EIC) because of the importance of the same trade. Naval battle between the Dutch arise. This opportunity was used by the Sultanate of Banten to take over Prince Jayakarta which has given place to the Netherlands and the UK. When the Dutch defense (Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)) destroyed. Governor VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), J. P. Coen (1619-1623) fled to Maluku to enlist the help of the Dutch troops.

 J. P. Coen back to Jayakarta 1000 people with additional troops. Return of J. P. Coen of Maluku bring reinforcements, was a catastrophe for the people of Jayakarta (Bantam) because the city Jayakarta destroyed. Banten people expelled from Jayakarta, fuel, and captured. Right on the date of May 30, 1619, J. P. Coen Jayakarta renaming it Batavia. Batavia's name is given on the orders of the board VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) is by name the ancestors of the Dutch nation Bataf or Batavir. With this Batavia, J. P. Coen memluai Dutch colonial history in the archipelago (especially Indonesia).

Sultan Abdul Mufakhir succeeded by his son Ahmad, Abu Am'ali Rahmatullah (1640-1651).

F) The Reign of Ahmad Abu Am'ali Rahmatullah (1604-1651)

Ahmad Abu A'mali Rahmatullah died, was replaced by his son named Abullath Abdul Fatah. Then he holds Sultan Ageng Tirtayasa.

G) The Reign of Sultan Agent Tirtayasa (Abullath Abdul Fatah) (1651-1692)

In 1651, the Sultanate of Banten ruled by Sultan Ageng Tirtayasa. He hated and hostile VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands). He tried to block the development of the Dutch perdangangan in Banten. In the first year of his reign, he successfully developed the Sultanate of Banten trade back, it is very harmful VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands) in Batavia. In addition, he also held a guerrilla attack by land to Batavia.

In 1656, two ships VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands) successfully attacked by the Banten. Sultan of Banten often refuse messenger VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands). That is why the Dutch do not feel safe in Punjab and did not feel safe in Banten and meninggaklanya secretly. When in Banten in implementing trade policy gets a reaction even lead to war, then in the Sultanate of Mataram as well.

In 1828, the Sultanate of Mataram attacks Batavia, but have not succeeded. The second attack, in 1629, the Sultanate of Mataram struck again to Batavia, but failed. However, General J. P. Coen, Governor of VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands) in Batavia, died at this time.

Ageng Tirtayasa Sultan was Sultan of Banten tercakap which explicitly running anti-colonial politics. Just unfortunate for him, he faces an enemy far more powerful weapons and clever, because running a divide et impera (political pitting).

Sultanate of Banten was severely affected by the monopoly of the VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands) and due to the concentration of VOC trade (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands) in Batavia. But Sultan Ageng Tirtayasa sure that it was he who shall restore the greatness and prosperity of the Sultanate of Banten in Hasanuddin era and the era of Joseph. That is why the business is focused on two things:

 To promote trade with the expanding Sultanate of Banten territory,

 Getting rid of VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands) of Batavia, Batavia is the center of the enemy because that causes deterioration of the Sultanate of Banten.

Sultan Ageng believe that the decline is due to monopoly trading Banten VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands), which closes all doors trades anywhere.

Banten is opened again to all nations that want to conduct trade with the Sultanate of Banten. He helped with the Napier area receive all the produce brought into the province. Shipping through the Straits of Sunda from West Sumatra open again. Eventually, the Sultanate of Banten became crowded again and businesses Sultan Ageng Tirtayasa to reduce direct trade to Batavia and through the Strait of Malacca, gradually succeeded.

Sultanate of Banten actions did kill monopoly VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands), regarded as an act of the enemy. VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands) to send its navy to block Banten. Three years, Banten sultanate suffered from the blockade and finally recognized the right of the Dutch and Banten trade controlled by the VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands).

But the agreement is not recognized by the Banten. At that time the position of VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands) is very weak because it is facing a rebellion in the Sultanate of Mataram Trunojoyo. Therefore VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands) was forced to ask for help Aru Palaka to keep Batavia. Then help came from the Netherlands and Palaka Aru troops sent to East Java Trunojoyo insurgency. After resistance Trunojoyo broken, the Netherlands will now concentrate its power to face the Sultanate of Banten.

i) The struggle against the Sultan Ageng Tirtayasa VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands)

Sultanate of Banten on its own, has raised divisions will be the collapse of the Sultanate of Banten. Abdul Kahar crown in 1671 was appointed auxiliary king with the title of Sultan. Since he has been to Mecca, so he called Sultan Haji. He was entrusted with the domestic affairs of the Sultanate of Banten, Sultan Ageng own while holding foreign affairs. In this field the Sultan Ageng was aided again by another of his sons, namely: Prince Purbaya. Separation of business conducted by the Sultan Ageng Tirtayasa gives holes to split the business or political "divide et impera" by the VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands). Because the Dutch strategy, Sultan Haji suspects that his father along with his brother and father menyangkah that would later appoint Prince Purbaya as Sultan of Banten. Sultan Haji very worried about losing the throne of the Sultanate of Banten, then a confidential manner, he asked for the help of VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands). The Netherlands is willing to give assistance to the agreement, as follows;

 Sultanate of Banten handed Cirebon area to VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands),

 Monopoly pepper and cloth, held by VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands) throughout the Sultanate of Banten.

The agreement was approved by the Sultan Haji. In 1681, Sultan Haji hold power struggles. His father was descended from the throne and he himself took the throne of the Sultanate of Banten. With the rapid convergence Sultan Ageng can hold power by collecting Banten people who are still loyal to him, to fight Sultan Haji. Sultan Haji pressed and immediately asked for help from the VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands).

VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands) to send the army into the Sultanate of Banten to help Sultan Haji. Sultan Ageng Tirtayasa defend himself in the castle at the edge Cidurian Tirtayasa and Cipontang.

Tirtayasa is a new city founded by Sultan Ageng. Dutch troops entered the Sultanate of Banten and release the Sultan Haji who was held captive. Dutch troops to the city Tirtayasa. Tirtayasa in the besieged citadel of all majors. But it is not easy to penetrate. By Captain Tack and De Sait Martin assisted by Jonker, Tirtayasa fort can be destroyed (Year 1682). But before the Dutch fort Tirtayasa, Tirtayasa palace was burned by the Sultan Ageng and Purbaya Prince Sultan Ageng and escape.

Sultan Ageng Tirtayasa can still construct strength and only with difficulty VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Dutch) can be urged to the south.

In 1683, Sultan Ageng Tirtayasa Prince Purbaya be imprisoned but escaped to pegnungan Banten. Sultan Ageng Tirtayasa taken to Batavia and jailed. Over the past eight years. Sultan Ageng Tirtayasa died in 1692.

H) The reign of Sultan Haji (Abdul Kahar) (1683-1687)

Sultan Haji freely in the Sultanate of Sultan of Banten, but are bound by a treaty with the VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Dutch), so in essence no longer independent Sultanate of Banten.

Foreign nations, especially England (East Indian Company / EIC) is no longer allowed in the Sultanate of Banten. Bantam trade entirely in Dutch hands.

Indeed, Sultan have succumbed to the VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Dutch), but people still have the spirit Banten, Sultan Ageng Tirtayasa resistance. People throughout history Banten still have the spirit of freedom burning. Since then many times arise uprisings in the Sultanate of Banten and every time can be extinguished by the VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands).

In 1687, Sultan Haji died, he was succeeded by the eldest son, named Prince Queen, with the title Sultan Muhammad Yahya Abdulfadil (1687-1690).

I) The Reign of Sultan Muhammad Yahya Abdulfadil (Prince Queen) (1687-1690)

Sultan Muhammad Yahya Abdulfadil only ruled for 3 years and died of illness. He was succeeded by his son, named Abdulmahasin Muhammad Zainul Abidin (1690-1733).

H) Abdulmahsin reign of Muhammad Zainul Abidin (1690-1733)

Abdulmahsin Sultan Zainul Abidin Muhammad died, he dingatikan by his son, Sultan Zainul Arifin.

J) The reign of Sultan Zainul Arifin

Sultan Zainul Arifin very weak and influenced by his queen, queen or queen Syarifah Fatimah Fatimah. Sultan Zainul Arifin raised his son, crown Prince Gusti so with the approval of VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Dutch), but the Queen Fatimah willed daughter (son Sultan's cousin) Prince Abdullah Sharif who took the throne.

Prince Gusti relented and withdrew to Batavia. At the urging of Queen Syarifah Similarly, Prince Gusti exiled to Ceylon (now; Sri Lanka) by Van Imhoff (1747).

Prince Sharif approved by the VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands) as the heir apparent.

Then after Sultan Zainul Arifin dies, succeeded him as Queen Queen Fatima in the Sultanate of Banten Banten. The Government was highly favored by the VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands) because they receive more pepper than him. However, the people of Banten not happy and started to fight against the Sultanate of Banten and VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Holland) (1750)

K) The Queen pemerinthaan Banten (Queen Fatimah) and Prince Sharif

i) Resistance Banten against VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Holland) (For: 1750-1753)

in 1750, people began to take up arms Banten. Which of course resisted VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands), including the Queen Fatima. People Banten led by Ki Tapa, dibatnu by Queen BagusBuang. Ki Tapa is an alim who meditated in the mountains Munara, was Queen BagusBuang is a noble leader who accomplished, derivatives Sultan of Banten.

Ki Tapa and his army aided by Queen BagusBuang advance towards the capital of the Sultanate of Banten. Troops Queen Fatima and VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Holland) had to endure alone. Governor-general of the Netherlands, Massel know the origin of the resistance did not approve of political Van Imhoff.

For Massel clear that the uprising was not a rebellion arose some people, but all the people of Banten revolt. To save power VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands) in Banten, by forgetting the services of the Queen and Prince Sharif Fatima, Fatima Queen and Prince Sharif was arrested, exiled to the Queen Fatimah Saparua but died before departing, and Prince Sharif to Banda. Brother Sultan Zainal Arifin the Arya Adi Santika was appointed viceroy, and Prince Gusti will be returned by the VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / Netherlands) from Ceylon (Sri Lanka) to be appointed as Sultan.

M) Asyiqin Zainul Arif Sultan Al Qadri

While the Queen and Prince Fatima Sharif had none, Banten amsih popular resistance continues to drive the Dutch.

N) The Reign of Sultan Muhammad Aliudin

O) Sultan Abul Fath Muhammad Muhyiddin Zainussalihin 1799 - 1803

P) Sultan Abul Muhammad Ishaq Nashar Zainulmutaqin (1803 - 1808)

Governor General Daendels Relations (Government of the Republic of Governors Bataaf / Dutch-French, Dutch East Indies) with the Sultanate of Banten

Governor General Daendels build a base of war, first in Ujungkulon, then MerakBanten.

Some 1500 workers sent by the Sultan of Banten, almost entirely killed by heavy work and exposed to malaria. Sultan of Banten no longer want to send the workers, the Governor-General to the Sultan of Banten Daendels ordered to submit Patih Wargadireja deemed by the Governor-General as head Daendels resistance.

After that the Governor-General sends Commander Daendels Du Pyu to demand, as follows:

 Workers 1000 people every day,

 Submitted Patih Wargadireja the Netherlands,

 For Palace moved to Anyer Banten.

The claim is answered by the killing of Commander Du Puy. Hearing these events, the Governor-General Daendels immediately send troops stormed the Palace of Banten. Patih Wargadireja shot dead and his body dumped into the sea. Sultan of Banten in captive and exiled to Ambon. Some of the Sultanate of Banten deprived areas and directly ruled by the Dutch, and some lent to the crown prince, the Sultan Muhammad Aliudin.

Nevertheless, the spirit of popular resistance Banten not extinguished. Led by Prince Ahmad, the people of Banten and Lampung preparing to unleash the power of resistance. Some time Sultanate of Banten chaotic, because the Sultan of Banten not have the support of the people of Banten.

Q) Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin (1809 - 1813)

Relations Raffles (The Reign of England / East Indian Company, the Dutch East Indies) with the Sultanate of Banten)

Before Raffles power in the Dutch East Indies, Raffles had a secret relationship with the sultan, king, or prince in the Dutch East Indies and incite them to revolt against the Dutch (Daendels reign), among others with the Sultan of Palembang, Sultan Napier, and Prince Ahmad (from Bantam) who are rebelling against the Netherlands. At the Raffles, Prince Ahmad is no longer needed. Prince Ahmad was arrested and exiled to Banda.

Sultan of Banten was not able to guarantee the security of Bantam, descended from the throne in 1813. Bantam directly ruled by the British. Sultan of Banten may continue to use but do not have the title of Sultan area. Sultan received a salary from the British government. Thus in 1813, gone Sultanate of Banten, which had been built by Falatehan (Fatahillah / Sunan Gunungjati) in 1527

0 comments:

Post a Comment