Musik Keroncong/ Music Keroncong FOR JUNIOR HIGH SCHOOL ART CULTURE


Musik Keroncong

(Sumber: Gunandar. 2012. Seni Budaya. Madiun:AnugerahAgung.)

A) Sejarah dan Perkembangan

1) Asal Mula. Musik Keroncong berasal dari Portugis yang dibawa oleh pelaut yang melakukan perdagangan di Indonesia sekitar abad ke-XVI. Perkampungan kecil Portugis mulai muncul di kota perdagangan sekitar dermaga di beberapa pulau nusanara, termasuk Jawa. Salah satu perkampungan itu adalah DesaTugu, suatu desa di pantai sebelah timur laut kota Jakarta. Meskipun merupakan perkamumpungan portugis, penduduk di tempat itu terdiri dari mesticos (umat Kristen Portugis-Indonesia), penganut baru agama Kristen setempat dan Mardjikers (Indo Portugis keturunan budak Afrika, India, Melayu, menganut baru agama Kristen). Mereka mempertunjukkan Musik Keroncong di waktu malam hari secara beramai-ramai. Karena di bawakan oleh orang peranakan dan disukai oleh rakyat jelata, sejak jaman Belanda, Musik Keroncong dianggap sebagai music pinggiran. Tidak jarang Musik Keroncong dimainkan setiap malam di pinggiran jalan dan sering dibarengi dengan kesenangan lain seperti minuman keras dan perilaku lain yang tidak santun di mata masyarakat. Dari sini istilah “buaya keroncong” bagi orang yang mempunyai  kesenangan berlebihan terhadap Musik Keroncong dan kesenangan lain yang dianggap kurang santun. Instrument yang digunakan dalam Musik Keroncong ditekankan pada alat music berdawai yaitu sepasang keroncong (ukulele dan cak), satu sampai tiga gitar, satu cello, dan sebua mandolin. Lebih lanjut dipadukan dengan satu atau dua buah biola, sebuah seruling dan alat perkusi kecil seperti triangle dan tamborin. Karena bunyi alat music ukulele: crong, crong, crong, akhirnya dikenal istilah music keroncong. Musik Keroncong berkembang di pulau Jawa pada abad ke-XX dan dalam perkembangannya erpengaruh oleh mudik daerah (tradisional) terutama di Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, Surakarta, dan Jawa Timur. Begitu populernya Musik Keroncong, sehingga dikenal luas dan sangat dihargai di seluruh pulau Jawa dan pulau lainnya. Ada sejumlah kelompok ansambel amatir di kota kecil di Jawa. Belakangan ini, music aliran ini berkembang bermacam gaya, dari ekroncong asli hingga lagam jawa, keroncong popular, keroncong jazz, dan sebagainya.

2) Perkembangan di Luar Jakarta. Perkembangan music keroncong di luar Jakarta seperti Ambon, Bandung, Mkasar, Semarang, Yogyakarta, Surakarta dan Surabaya sangat berpengaruh oleh music tradisional. Terutama di Jawa Tengah tempat Musik Keroncong terpengaruhi music pentagonis (gamelan). Timbula istilah “langgam” yang berciri bahasa daerah serta tangga nada ndan ritmenya yang diarahkan ke music daerah. Walaupun instrumensinya tersebut dari ansambel keroncong tradisional Jakarta tetapi terdengar seolah-olah music gamelan yang dipindahkan ke instrumentasi barat. Kemiripan jelas adalah antara: biola-rebab, flute-suling, gitar melodi-siter atau celempung, ukulele-ketuk, cello-kendang, dan bass-gong. Perkembangan Musik Keroncong di Jawa Timur ditandai adanya teater rakyat komedi Stambul yang menggunakan lagu keroncong di panggung pertunjukan untuk selingan maupun untuk bagian dari drama tersebut. Timbullah Musik Keroncong dengan gaya baru yang disebut “stambul”.  Musik Keroncong di Ambon terpengaruh oleh music Hawaian. Dalam praktiknya mereka menambahkan alat music gitar Hawai sebagai pembawa melodi. Sedangkan keroncong di Makasar, memakai alat music yang sama dengan di Jawa tetapi dengna ditambahkan kecapi. Lagu juga terpengaruh oleh gaya daerah tersebut. Musik Keroncong di Balikpapan terdri dari satu atau dua biola, satu mandolin yang disebut “gambus”, ukulele, banjo serta dua buah gendang. Lagunya juga terpengaruh gaya tradisional. Di Flores, terutama di Flores Tengah, menggunakan gitar dan ukulele, sedangkan di Flores Timur sebagai Musik Keroncong walaupun alat musiknya tidak lengkap. Lagunya pun bersifat tradisional.

B) Bentuk.

1) Musik Keroncong Asli.

Ciri khusus Musik Keroncong:

Ø  Birama 4/4,

Ø  Menggunakan alat music ukulele,

Ø  Syair lagu terdiri dari 4 kalimat, masing kalimat 4 birama sehingga jumlah seluruhnya 28 birama,

Ø  Kalimat lagu ke tiga selalu diselingi secara instrumentalia sebanyak 2 sampai 4 birama,

Ø  Bentuk lagu keroncong memiliki pola ABS,

Ø  Kalimat lagu keempat selalu mendapatkan iringan,

Ø  Instrument pengiring Musik Keroncong asli terdiri dari 7 macam, yaitu: bass, cello, biola, seruling/ flute, gitar melodi, ukulele, cak,

Ø  Harmoni yang digunakan sangat terbatas dan kurang mendapat kebebasan untuk berimprovisasi,

Ø  Untuk music keroncong modern terdapat sedikit perbedaan dengan Musik Keroncong asli, yaitu pada penggunaan jenis instrument dan susunan iringannya bukan perbedaan bentuk atau susunan lagu.

2) Musik Keroncong Langgam, cirinya sebagai berikut:

Ø  Memiliki birama 4/4,

Ø  Tempo yang digunakan selalu moderato,

Ø  Sebuah lagu langgam terdiri dari 4 bait, tiap bait terdiri 8 birama sehingga jumlah keseluruhan adalah 32 birama.

Ø  Bentuk lagu langgam memiliki pola AA’BA’,

Ø  Birama kedua pada bait ketiga (alternative) selalu mendapat iringan ako tingkat IV (sub dominat),

Ø  Peranan alat music ukulele dengan mengiringi lagu kurang begitu menonjol,


3) stambul

Introduksi

Ciri lagu Musik Keroncong stambul:

Ø  Berirama 4/4,

Ø  Terdiri dari 4 kalimat lagu, masing terdiri 4 birama sehingga semua berjumlah 16 birama,

Ø  Iringan dimulai padab irama ke tiga dan selalu jatuh pada akor tingkat IV (Subdominant),

Ø  Model iringan hampir sama dengan langgam dan keroncong yaitu peran gitar dan cello kendangan sangat menunjang penampilan,

Ø  Bentuk lagu Musik Keroncong stambul memiliki pola AB.

4) Lagu Musik Keroncong Ekstra, cirinya sebagai berikut:

Ø  Bentuk menyimpang dari ketiga jenis Musik Keroncong di atas,

Ø  Bersifat merayu, riang, gembira dan jenaka,

Ø  Sangat terpengaruh oleh lagu tradisional.


C) Instrumen Musik Keroncong.

Ø  Biola berfungsi sebagai pemegang melodi dan sebagai kontrapunk dari vocal dengan imitasinya. Biola berdawai empat, dengan system nada :G-D’-A’-E”. Lagu biola umumnya merupakan imitasi dari lagu vocal dengna banyak improvisasi termasuk inroduksi dan codanya,

Ø  Flute (seruling) termasuk instrument tiup kayu, yang mempunyai ambitus nada B/C’ sampai C”. Fungsi alat ini adalah sebagai pemegang melodi seperti biola dan mengisi kekosongan selain untuk intro dan coda. Seruling ada yang terbuat dari kayu, bambu, maupun logam.

Ø  Gitar termasuk instrument petik dengan fungsi sebagai pengiiring tetapi dapat pula sebagai pembawa melodi. Gitar berdawai enam, dengan sistem nada :E-A-D-G-B-E’. Permainan gitar mengikuti tangga nada dengan lompatan sedikit naik atau turun yang artinya lebih kurang diatonic. Permainannya merupakan uraian dari akor yang sedang dibawakan.

Ø  Ukulele termasuk instrument petik yang berfungsi sebagai pemegang ritme. Ukulele berdawai empat dengan sistem nada G”-C”-E”-A” (ukulele sistem A) tetapi ada pula yang berdawai tiga dengan sistem nada G”-B”-E” (ukulele sistem E). Permainan ukulele dipetik secara arpeggio atau menurut istilah dalam teknik permainan gitar disebut “rasguedo’ (Spanyol).

Ø  Instrument banjo dalam Musik Keroncong sering disebut dengan nama Cak atau Cak tenor. Sama dengan alat ukulele, banjo termasuk kelurga instrument petik dan berfungsi sebagai pemegang ritme. Alat ini berdawai tiga, dengan sistem nada G”-B’-E” atau G’-B’-E” (banjo sistem E) ada pula banjo sistem nada D”-Fis’-B’ (Banjo sistem B).

Ø  Cello termasuk keluarga instrument ggesek, bentuknya mirip dengan biola hanya ukurannya lebih bulat ini berfungsi sebagai pemegang ritmis, berdawai tiga dengan sistem nada C-G-D’, ada pula yang mempergunakan sistem D-G-D’. Cello dimainkan dengan cara dipetik (pizzicato) menggunakan jari telunjuk dan ibu jari. Pembawaan alat ini menirukan suara pukulan ritmis dari alat bas. Cello memainkan uraian nada dari akor yang sedang dibawakan.

Ø  Bass atau contrabass juga termasuk keluarg instrument dawai dan mempunyai leher yang lebih besar daripada biola atau cello dengan bentuk pundak tajam. Tepinya lebih besar dan tampak tidak menonjol bila dilihat dari belakang. Bass berfungsi sebagai pengendali ritmis. Berdawai empat dengan sistem nada E-A-D-G. ada pula yang hanya mempergunakan tiga dawai dengan sistem nada A-D-G. Alat ini dibawakan dengan cara dipetik (pizzicato) dan memainkan nada bass dan contranya dari akor yang sedang dibawakan. Ketepatan itme dari setiap petikan sangat dibutuhkan atau dengan kata lain attack harus tepat.

D) Pembawaan Vokal. Penyanyi Musik Keroncong dituntut dapt membawakan cengkok dan gregel yaitu semacam hiasan nada yang dalam istilah music Barat adalah semacam grupetto dan mordent. Istilah cengkok dan gregel ini diambil dari istilah music tradisional Jawa. Cengkok adalah segala bentuk nada hiasan yang memperkembangkan kalimat lagu artinya mengisi, memperindah, dan menghidupkan lagu. Jadi dapat disebut pula sebagai improvisasi. Sedangkan gregel ialah hiasan nada yang bergerak cepat.

                Pembawa cengkok dan gregel hendaknya luwes dan baik sehingga apa yang tersirat di dalam lagu tersebut akan terwakilkan seperti tuntutan sang komponis. Sedangkan penyanyi tidak dituntut untuk menyanyikan sesuai partitu music (naskah).

Pembawaan hiasan vocal dalam music keroncong berbeda menurut jneis music keroncong sehingga terdapat perbedaan. Misalnya sebagai berikut:

Pembawaan vocal dalam Musik Keroncong asli:

Ø   Pembawaan melodi dan syairnya bersifat improvisatoris, bercengkok, dan gregel, juga secara portamento. Sedangkan ritmenya sering tidak pas pada pukulan yang seharusnya yang dalam istilah keroncong disebut ngggandul (bahasa Jawa: menggantung),

Ø  Pembawaan Musik Keroncong asli bersifat gagah,

Ø  Tempo: andante, moderato.

Pembawaan Musik Keroncong stambul II:

Ø  Pembawaan melodi dan syairnya secara improvisatoris, selaras dengan pembawaan keroncong asli dengna cengkok dan gregel,

Ø  Bersifat halus dan lembut serta mengharukan, penuh percintaan,

Ø  Tempo: andante

Pembawaan vocal dalam langgam keroncong

Ø  Sifatnya pembawaannya lebih mudah daripada Musik Keroncong asli dan Musik Keroncong stambul II, karena tanpa cengkok dan gregel

Ø  Serupa dengan sifat pembawaan lagu hiburan Indonesia.

Ø  Tempo: andante, moderato.

IN ENGLISH (with google translate Indonesian-english):

Music Keroncong
(Source: Gunandar. 2012. Cultural Arts. Madiun: AnugerahAgung.)
A) History and Development
1) Origins. Keroncong originated from Portuguese music brought by sailors who trade in Indonesia around XVI century. Small settlements began to appear in the Portuguese trading town around the docks at some nusanara islands, including Java. One is DesaTugu township, a village on the northeast coast of Jakarta.Despite being perkamumpungan Portuguese, resident in the place consisted of mesticos (Portuguese-Indonesian Christians), the local Christian catechumen and Mardjikers (Indo Portuguese descendants of African slaves, Indian, Malay, new embrace Christianity). They present Keroncong music at night in a gang.Because in brought by the Peranakan people and liked by the masses, since the Dutch, Music Keroncong considered a fringe music. Not infrequently Keroncong music played every evening at the curb and is often accompanied by other pleasures such as drinking and other behaviors that are not in the eyes of polite society. From here the term "crocodile keroncong" for people who have excessive enjoyment of the music Keroncong and other pleasures that are considered less polite. Musical instruments used in Keroncong emphasis on stringed music instrument, namely a pair of keroncong (ukulele and cak), one to three guitars, a cello, and mandolin sebua. Furthermore, combined with one or two violins, a flute and small percussion instruments such as the triangle and tambourine. Because the sound of music instrument ukulele: crong, crong, crong, eventually known term keroncong music. Keroncong music developed on the island of Java in the twentieth century and in its development by the homecoming erpengaruh (traditional), especially in Jakarta, Central Java, Yogyakarta, Surakarta, Java and East Java. Once the popularity of music Keroncong so widely known and highly respected throughout the islands of Java and other islands. There are several groups of amateur ensembles in a small town in Java.Recently, the music genre developed various styles, from the original to the horse's bit Java ekroncong, keroncong popular, keroncong jazz, and so on.
2) Developments in Foreign Jakarta. The development of music keroncong outside Jakarta as Ambon, Bandung, Mkasar, Semarang, Yogyakarta, Surakarta and Surabaya highly influential by traditional music. Especially in Central Java where Music Keroncong pentagonis influenced music (gamelan). Timbula term "style" that characterized the local language and rhythm nand scales are directed to the music area. Although instrumensinya from traditional ensemble keroncong Jakarta but sounded as though gamelan music that moved into western instrumentation. Similarities are evident between: violin-fiddle, flute-flute, guitar-zither melody or zither, ukulele-tap, cello-drums, and bass-gong. Developments in East Java Music Keroncong marked the theatrical comedy folk song keroncong Stambul using on the stage for a change and for a part of the drama. Keroncong Music arose with a new style called "opera". Music Keroncong in Ambon affected by Hawaian music. In practice they are adding a Hawaiian guitar music as a carrier of melody. While keroncong in Makassar, use of music similar to Java but dengna added harp. The song also influenced by the style of the area. Music Keroncong in Balikpapan terdri of one or two violins, a mandolin called "harp", ukulele, banjo and two drum. The song was also affected traditional style. In Flores, especially in Central Flores, a guitar and ukulele, while in East Flores as Music Keroncong although incomplete instrument. The song was traditional.
B) Form.
1) Original Music Keroncong.
The special feature Music Keroncong:
 time signatures 4/4,
 Using music instrument ukulele,
 song poem consisting of 4 sentences, each four-bar phrase that total to 28 bars,
 sentence to three songs are interspersed by instrumental as much as 2 to 4 bars,
 Form keroncong song has a pattern of ABS,
 Sentence fourth song always gets accompaniment,
 Instrument Keroncong original music accompaniment consists of seven kinds, namely: bass, cello, violin, flute / flute, guitar melody, ukulele, cak,
 Harmony used to be very limited and lacking the freedom to improvise,
 To keroncong modern music there is little difference with the original Keroncong music, namely the use of the instrument and not difference iringannya composition or arrangement of the song form.
2) Music Keroncong Idioms, typically as follows:
 Having time signatures 4/4,
 always used Tempo moderato,
 A song melody consists of four stanzas, each stanza consisting eight bars so the total is 32 bars.
 form of song styles have AA'BA pattern ',
 The second time signatures on the third verse (alternative) always gets accompaniment ako level IV (sub dominat),
 The role of music instrument ukulele to accompany the song is less prominent,

3) opera
Introduction
Feature Music Keroncong opera song:
 Rhythmic 4/4,
 Consists of 4 words of songs, each comprising 4 bars so all totaled 16 bars,
 started padab rhythm accompaniment to three and always falls on the level IV chord (subdominant),
 Model accompaniment styles and similar to the role keroncong guitar and cello very supportive drumming performances,
 Form Music Keroncong opera song has AB pattern.
4) Extra Keroncong Music Songs, typically as follows:
 shape deviates from the three types of music Keroncong above,
 Equity seducing, cheerful, happy and playful,
 Very influenced by traditional songs.

C) Musical Instruments Keroncong.
 violin melody serves as a holder and as kontrapunk of vocals by imitation. Four stringed violin, with a tone system: G-D'-A'-E '. Violin song is generally a vocal imitation of the song including inroduksi dengna much improvisation and codanya,
 Flute (flute) including woodwind instrument, which has ambitus tone B / C 'to C'.The function of this tool is the holder of the violin melody and fill in the blanks in addition to the intro and coda. The flute is made of wood, bamboo, and metal.
 stringed instruments including the guitar as a function pengiiring but also as carriers of melody. Six-string guitar, with tone system: EADGB-E '. Follow guitar scales with little jumps up or down, which means more or less diatonic. The game is a description of the chord that is being delivered.
 Ukulele including stringed instrument that serves as a holder of rhythm. Ukulele strings four tone system G "-C"-E "-A" (ukulele system A) but there is also a stringed three tone system G "-B"-E "(ukulele system E). Playing the ukulele plucked arpeggios or as it is known in the guitar playing technique called "rasguedo '(Spain).
 Instrument banjo in Music Keroncong often referred to by name or Cak Cak tenor. Same with a ukulele, banjo stringed instruments including my family and serves as a holder of rhythm. This tool strings three, with a tone system G "-B'-E" or G'-B'-E '(banjo system E) there are banjo tone system D "-Fis'-B' (Banjo system B).
 Cello including family ggesek instrument, shaped like a violin just more rounded size serves as a holder of a rhythmic, three-string tone system with CG-D ', there is also a system using DG-D'. Cello played by plucked (pizzicato) using the index finger and thumb. The delivery of these tools imitate the sound of rhythmic punch bass instrument. Cello playing description of chord tones being sung.
 bass or contrabass also includes family a stringed instrument and has a neck bigger than a violin or cello to form sharp shoulder. Edges are larger and seem not prominent when viewed from behind. Bass serves as a rhythmic control. Four stringed tone system with E-A-D-G. others simply use the three strings with ADG tone system. The tool is delivered by way of plucked (pizzicato) and plays bass tones and chords contranya from being delivered. The accuracy of each passage itme is needed or in other words to be precise attack.
D) The delivery of the vocals. Singer sued DAPT Keroncong Music brings a kind of twisted and ornate gregel tone in terms of Western music is sort grupetto and mordent. Twisted and gregel term is taken from the term traditional music of Java.Twisted are all forms of decoration that develops sentence tone song means filling, beautify, and turn on the song. So it can be called as well as improvisation.While gregel decoration is fast-paced tone.
Twisted and gregel carrier should be flexible and well so what is implied in the song will be represented as the demands of the composer. While the singer was not required to sing according partitu music (manuscript).
Carrying ornate vocal music vary according jneis keroncong keroncong music so there is a difference. For example, as follows:
The delivery of the vocals in the original Keroncong Music:
 Carrying improvisatoris melodies and poetic nature, bercengkok, and gregel, as well as portamento. While the rhythm is often not fit to be a blow in terms keroncong called ngggandul (Javanese: hang),
 Carrying Keroncong original music is spunky,
 Tempo: Andante, Moderato.
Carrying Music Keroncong stambul II:
 Carrying a improvisatoris melodies and poetic, harmony with nature and the original keroncong dengna twisted gregel,
 Equity smooth and soft and touching, full of romance,
 Tempo: Andante
Carrying vocal keroncong
 Its demeanor is easier than the original Keroncong Music and Music Keroncong stambul II, because without twisted and gregel
 Similar to the innate nature of entertainment Indonesian song.
 Tempo: Andante, Moderato.


0 comments:

Post a Comment