Kultur Area Brang Wetan di Provinsi Jawa Timur tentang Dhaupan Warga Samin di desa Tapelan, Ngraho, Bojonegoro/ Brang Wetan Culture Area in East Java province on Dhaupan Residents in the village Tapelan Samin, Ngraho, Bojonegoro FOR GENERAL SOSIOLOGY


Kultur Area Brang Wetan di Provinsi Jawa Timur tentang Dhaupan Warga Samin di  desa Tapelan, Ngraho, Bojonegoro

(Sumber: Supriyanto, Henri.1997. Upacara Adat Jawa Timur. Surabaya: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Daerah Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Jawa TImur.)

Daerah Tingkat II (DATI II) Kabupaten Bojonegoro

                Wilayah daerah tingkat II Kabupaten Bojonegoro secara geografis berbatasan dengan wilayah Daerah Tingkat II Kabupaten Blora (Jawa Tengah). Oleh karena banyak adat istiadat, sistem kepercayaan dan sikap budaya yang dipengaruhi oleh sikap budaya masyarakat Samin. Salah seorang nara sumber bernama Kakek Karya (60 tahun) bertempat tinggal di desa Tapelan, Kecamatan Ngraho. Ia terkenal sebagai “tokoh Samin” yang dengan setia mewarisi ajaran Samin serta melestarikan ke lingkungan masyarakatnya.

                Siapakah Samin dan bagaimana ajarannya? Suripah Sadi Hutomo (1996:13) mengatakan bahwa Samin Surentika lahir di desa Ploso Kedhiran (Randhublatung, Blora) pada tahun 1859. Ayahnya bernama Raden Surowijaya, Samin nama kecilnya+ Raden Kohar. Ia mengubah namanya menjadi Samin, agar bernafas kerakyatan. Pada zaman colonial Belanda Samin Surontika dikenal sebagai Ratu Tanah Jawa. Ratu Adil Heru Cakra dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam. Berdasarkan kisa sastra lisan di Tapelan, Samin menjadi raja karena kehendak rakyatnya.

                Samin Surontika mulai mengembangkan ajarannya pada tahun 1880, di Desa Klapadhuwur (Blora). Pengikut Samin terbesar di bagian selatan Blora dan sebagian daerah Bojonegoro. Masyarakat pengikutnya menjuluki Samin sebagai pengikut agama Adam. Ia pun dituduh sebagai pemberontak terhadap pemerintah Belanda. Tetapi masyarakat amat menghormatinya. Aliran Samin dijuluki “Wong Samin, wong Sikep dan wongAdam/ agama Adam”.

                Samin Surontika oleh pengikutnya diangkat sebagai Ratu Adil dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam pada 8 November 1907. Empat puluh hari sesudah peristiwa di atas, Samin ditangkap oleh Raden Pranolo (ndara seten/ Asisten Wedana) di Randublatung, ditahan di tobong bekas pembakaran batu kapur/ gamping, dan  akhirnya diinterogasi di Rembang. Samin bersama 8 orang pengikutnya dibuang ke luar Jawa, Samin wafat di Padang tahun 1914. Sesudah Samin wafat, pengikutnya terus melestarikan ajaran-ajarannya. Di Tapelan dijumpai peninggalan Samin berupa buku “Serat Jamuskalimasada”, ternyata terdiri dari beberapa buku yaitu; Serat Punjer Karawitan, Serat Pikukuh Kasajaten, Serat Uri-Uri Pambudi, Serat Jati Sawit dan Serat Lampahing Urip (Hutomo, 1996:13-20).

Dhaupan Warga Samin

                Istilah “DhaupanWargaSamin” mempunyai pengertian upacara pernikahan berdasarkan adat dan tradisi masyarakat pemeluk ajaran Samin”. Adat-istiadat perkawinan masyarakat Samin pada zaman Belanda dilaksanakan oleh orang tua penganten dan disaksikan oleh Kepala Desa dan sesepuh desa. Mereka tidak bersedia mencatatkan diri kepihak pemerintahan Belanda. Tradisi tersebutlah yang dilaksanakan dan dilestarikan hingga zaman sekarang, artinya pernikahan secara adat, tidak perlu dicatat atau dikaitkan dengan sistem administrasi pemerintahan.
               
                Rangkaian upacara yang dilaksanakan disebut “Dhaupan” yang berarti pernikahan atau perkawinan. Proses upacara perkawinan amat sederhana (tidak berbelit-belit). Sebelum pelaksanaan hari upacara perkawinan, pihak penganten pria menyerahkan “ubarmapen” (segala keperluan perkawinan) yang terdiri dari perlengkapan busana penganten dan bahan makanan yang akan dihidangkan. Pada hari yang telah ditetapkan oleh kedua belah pihak (penganten laki-laki dan penganten wanita), keluarga penganten wanita yang mempersiapkan kedatangan penganten laki-laki dan pengiringnya. Secara tradisional, sesampai di depan rumah penganten wanita, Orang tua penganten laki-laki mengucapkan kalimat sebagai berikut:

“San, angsal kula ngriki badhe ngujudake turun kula lanang. Dene rembag kala wingenane sampun kula wujudake, Suwita tata tatane wong sikep rabi. Ana ala becike kendha tutur”.

Kronologi Upacara Pernikahan

1)keluarga penganten wanita beserta sanak saudaranya telah mempersiapkan diri untuk melaksanakan upacara.

2)rombongan penganten laki-laki (priyaa) datang di tempat penganten wanita. Di muka pintu penganten wanita, pihak orang tua penganten laki-laki mengucapkan kalimat pasrah, selanjutnya diterima pihak orang Tua penganten putri.

3) rombongan penganten pria memasuki rumah upacara. Panatacara (pewara) mengumumkan bahwa para juru lendang menyajikan makanan (suguhan) dengan cara beranting dan disebut “shodokansuguhan”. Masing-masing pengunjung menerima satu kreneng” berisi makanan/ kue-kue pedesan.

4) Puncak upacara dhaupan, kalimat-dhaupan diucapkan oleh orang tua penganten wanita, diterima penganten laki-laki dan dilanjutkan dengan “pengucapan janji”.

5)sesudah pengucapan janji penganten, para tamu menikmati makanan di suatu tempat yang telah dipersiapkan.

6) Penyajian tembang “ular-ular” nasehat oleh sesepuh desa yang ditujukan kepada kedua penganten. Isi tembang di terangkan dengan “Kandha tutur” dalam dua atau tiga puluh tembang.

7) Doa penganten, dipimpin oleh sesepuh desa dan selalu terucapkan dalam bahasa daerah.

8) Paripurna upacara, segenap tamu memberi ucapan selamat kepada penganten dan keluarga penganten.

IN ENGLISH (with google translate Indonesian-english):

Brang Wetan Culture Area in East Java province on Dhaupan Residents in the village Tapelan Samin, Ngraho, Bojonegoro
(Source: Supriyanto, Henri.1997. Ceremony in East Java. Surabaya: Regional Department of Tourism and Culture Provincial Level Region East Java.)
Regional Level II (municipal) Bojonegoro
Region II level regions Bojonegoro geographically adjacent to the area Blora Level II Regional District (Central Java). Because many customs, belief systems and cultural attitudes are influenced by cultural attitudes Samin. One of the resource persons named Grandpa's work (60 years old) residing in the village Tapelan, District Ngraho. He is known as "Samin figure" who faithfully inherited Samin teaching and preserving their communities.
Who Samin and how his teachings? Sadi Suripah Hutomo (1996:13) says Samin Surentika was born in the village of Ploso Kedhiran (Randhublatung, Blora) in 1859. His father named Raden Surowijaya, Samin his first name + Raden Kohar.He changed his name to Samin, so as breathing populist. In the Dutch colonial era Samin Surontika known as the Queen of Java. Ratu Adil with his Chakra Heru King Panembahan Suryangalam. Based on oral literature in Tapelan purse, Samin became king by the will of its people.
Samin Surontika began developing his teaching in 1880, in the village of Klapadhuwur (Blora). Samin biggest followers in the southern portion of the Blora and Bojonegoro. Samin society dub followers as followers of Adam. He was accused of being a rebel against the Dutch government. But the very honor.Samin flow nicknamed "Samin Wong, Wong Sikep and wongAdam / religion of Adam".
Samin Surontika by his followers as the Messiah appointed to the title of King Panembahan Suryangalam on 8 November 1907. Forty days after the above events, Samin was arrested by Prince Pranolo (ndara Seten / Assistant district officer) in Randublatung, held at the former tobong burning limestone / lime, and finally interrogated in Apex. Samin 8 people with followers disposed outside Java, Padang Samin died in 1914. Samin After his death, his followers continued to preserve his teachings. Samin Tapelan relics found in the form of the book "Fiber Jamuskalimasada", it consists of several books namely Punjer Karawitan Fiber, Fiber pikukuh Kasajaten, Uri-Uri Pambudi Fiber, Fiber and Fiber Lampahing Teak Oil Urip (Hutomo, 1996:13-20).
Residents Dhaupan Samin
The term "DhaupanWargaSamin" had understanding of the wedding ceremony based on customs and traditions of the followers of the teachings of Samin ".Marriage customs in the Dutch society Samin carried by the bride and the parents witnessed by the village chief and village elders. They are not willing to put myself kepihak Dutch rule. Tradition is exactly executed and preserved to the present day, that the customary marriage, not recorded or associated with the system of administration.
Performed the ceremony called "Dhaupan" meaning wedding or marriage. The process is very simple marriage ceremony (not straightforward). Before the implementation of the day the marriage ceremony, the groom handed "ubarmapen" (all the purposes of marriage) which consists of the bride dress supplies and foodstuffs to be served. On the day that has been set by both parties (the bridegroom and the bride), families are preparing for the arrival of the bride bridegroom and his retinue. Traditionally, upon arriving in front of the bride, the bride's parents say the boy following sentences:
"San, angsal ngriki badhe ngujudake me down me lanang. Dene rembag me when wingenane sampun wujudake, Suwita order tatane wong Sikep rabbi. Ana said kendha becike style ".
Chronology Wedding Ceremony
1) family of the bride and his brethren had prepared for performing the ceremony.
2) group bridegroom (Priyaa) came on the bride. At the front door of the bride, the parents bridegroom utter surrender, and then accepted by the old bride.
3) group ceremony the groom enters the house. Panatacara (pewara) announced that the interpreter scarf serves food (treats) by way of a relay and is called "shodokansuguhan". Each visitor receives a kreneng "containing food / pastries countryside.
4) The highlight of the ceremony dhaupan, sentences uttered by parents dhaupan bride, bridegroom received and followed by "vows".
5) after the bride vows, guests enjoy a meal in a place that has been prepared.
6) Presentation of the song "snakes" by the advice of the village elders, addressed to both the bride. Explain the contents of the song in the "Kandha said" within two or three dozen songs.
7) Prayer bride, led by village elders and always spoken in the local language.
8) Plenary ceremony, all the guests congratulated the bride and the bride's family.

0 comments:

Post a Comment